Organisasi Biru-Kuning: Tempatku Tumbuh dan Berproses
Oleh: Nindya Tri Wahyuni
Terlepas dari banyaknya organisasi eksternal kampus yang menjamur, orang-orang di sekitarku memilih Biru-Kuning sebagai tempat mereka berproses. Aku yang awalnya tidak tahu menahu mengenai organisasi tersebut, hanya mengamati dari jauh. Semakin hari, kurasakan mereka-mereka terus bertumbuh secara masif. Mulai dari keterampilan berbicara di depan umum (Public Speaking), kemampuan berpikir kritis (Critical Thinking), serta kemampuan mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Aku penasaran, juga diam-diam tertarik dengan organisasi ini. "Wah, bagaimana caranya mereka bisa tumbuh sebaik itu? apakah aku bisa seperti teman-temanku? apa aku akan diterima di organisasi ini?" pikirku, yang saat itu masih SMA, racau.
Hingga tiba saatnya, aku memasuki perguruan tinggi. Kampus Hijau, begitulah sebutan dari salah satu Universitas di Malang yang kupilih sebagai tempatku melanjutkan pendidikan. Di kampus hijau ini, organisasi Biru-Kuning terlihat gagah berdiri. Tanpa suruhan siapapun, aku berinisiatif (tentunya dengan semangat yang menggebu setelah melihat proses dari teman-temanku sebelumnya) mendaftarkan diri dan menjadi bagian darinya. Bagiku, yang memang kurang memiliki pengalaman untuk bergaul dan memimpin; baca: introvert, memutuskan mengikuti organisasi ini adalah sebuah langkah besar. Tinggi harapanku bahwa Biru-Kuning mampu menjadi wadahku untuk meningkatkan kemampuanku ber-relasi dengan orang lain, juga menjadikanku berani memimpin dan berbicara di depan banyak orang.
Sebelum resmi menjadi kader Biru-Kuning, aku harus mengikuti serangkaian prosesi pengkaderan. Yang pertama adalah MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) yang dilaksanakan selama 3 hari 2 malam. Lewat MAPABA inilah aku merasa diterima. Aku merasa mempunyai rumah baru, yang menuntun juga memaksaku berkembang. Teman-teman yang hanya kukenal sekilas, beranjak menjadi sahabat dan sahabatiku. Mereka merangkulku, menjadikanku yang dulu seringkali tak terlihat menjadi terlihat. Banyak sekali hal-hal positif yang kudapat, salah satunya adalah: mengembangkan pola
berpikirku. Dari yang belum mengerti terhadap isu sekitar dan nasional, menjadi tergerak untuk gemar membaca dan melek isu.
Sunan Bonang, begitulah rumahku disebut. Aktif mengadakan kajian dan diskusi, rumahku inilah yang memaksaku meningkatkan bacaanku dan kemampuanku berpikir kritis. Aku dipaksa untuk mengutarakan isi pikiranku yang belum tertata rapi, sehingga mau tidak mau, aku harus memaksa diriku berpikir sistematis (supaya aku nggak malu juga sih hehe). Yang paling berkesan untukku adalah ketika aku dipercaya menjadi ketua pelaksana KKR (Kemah Keluarga Rayon). Iya! Kalian tidak salah baca. Aku, seseorang yang bukan siapa-siapa, sebelumnya malu dan tidak percaya diri bahkan takut menunjukkan keberadaan diriku, sekarang terpilih menjadi ketua pelaksana. Bukan main senangnya aku. Untuk pertama kalinya, aku merasa hidup, dan layak. Pengalaman pertamaku menjadi pemimpin tentu tidak luput dari kekurangan dan kesalahan, namun bukan berarti aku lari dan berhenti. Justru aku bertekat untuk terus maju, tumbuh dan berkembang.
Bagiku, berproses di organisasi Biru-Kuning ini bukan hanya tentang keberhasilan. Namun, bagaimana kita dapat melewati segala tantangan dan
mengambil makna dalam setiap proses yang kita lalui. Itulah caraku memaknai arti sebenarnya dari apa yang dinamakan proses.
