0
Home  ›  Tidak Ada Kategori

Manusia Apatis: Kegagalan dalam Memahami Stoikisme

Stoikisme merupakan salah satu aliran filsafat kendali diri dalam kehidupan, diambil dari bahsa Yunani “stoikos” atau stoa. Istilah ini merujuk pada Stoa Poikile, sebuah “sekolah filsafat” di Athena, Yunani, tempat Zeno, filsuf dari Citium tahun 301 SM yang mempopulerkan aliran ini. Penggunaan istilah “stoik” sejatinya merujuk pada "bundaran tiang penopang" yang mendukung teras tempat Zeno mengadakan diskusi dan pengajaran.

Akhir-akhir ini, aliran filsafat stoa kembali dipopulerkan, dampak dari munculnya fenomena baru pada kondisi sosial hari ini. salah satunya adalah, munculnya kajian tentang mental health yang ramai dibahas. Stoa, sebagai salah satu aliran filsafat kehidupan sering kali dikaitkan dengan kajian mental health. Nilai-nilai yang terkandung dalam Stoa dirasa sangat relevan untuk membendung dampak dari cepatnya laju modernisasi dan teknologi informasi yang tanpa disadari terus menuntut penggunanya untuk selalu tampil sempurna dalam sebuah citra diri yang purna. kondisi ini, rasanya belum siap dihadapi oleh generasi saat ini sehingga memberikan tekanan psikologis yang membuat kita menjadi pribadi yang mudah cemas, mudah iri, insecure atas diri kita sendiri, hingga kita kerap merasa rendah diri–ini tak jarang berujung depresi.

Namun, Stoa sering kali salah diartikan oleh orang kebanyakan menjadikannya sebagai tutorial hidup bodo amat. Penganutnya kemudian gagal memahami nilai-nilai sebernanya dari stoik, bukannya menjadi pribadi yang bijaksana, Stoa yang gagal malah menjadikan mereka sebagai pribadi yang apatis, nir-empati, abai terhadap kondisi sosial, tidak memiliki target hidup, dan lupa diri dengan tanggungjawabnya sebagai manusia.  

Kegagalan dalam memahami filosofi Stoa sering kali membuat banyak orang terjebak dalam pencarian kebahagiaan diri sendiri, tanpa menyadari bahwa kebahagiaan tidak pernah berdiri sendiri. Kebahagiaan sejati memerlukan harmoni dengan dunia sekitar, memerlukan kebijaksanaan, kebajikan, dan hubungan yang sehat dengan sesama. Dalam pandangan Stoa, kebahagiaan bukanlah tujuan akhir yang bisa dicapai dengan sendirian, melainkan hasil dari hidup yang selaras dengan alam dan prinsip-prinsip moral yang kokoh. Ini adalah sebuah kesadaran bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, dan kebahagiaan kita terkait erat dengan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain.

Penganut Stoik abal-abal sering kali terjebak dalam kondisi kenyamanan semu yang mereka ciptakan sendiri, karena gagal memahami konsep kehidupan yang sebenarnya. Mereka mungkin merasa bahwa tidak memiliki target hidup adalah bentuk kebijaksanaan, padahal sejatinya, kebijaksanaan itu terletak pada kemampuan membuat keputusan yang lebih bijaksana dan memahami bagaimana tindakan kita memengaruhi diri kita sendiri serta orang lain. Tanpa pemahaman mendalam ini, mereka hanya mengarungi kehidupan dengan cara yang dangkal, kehilangan esensi dari Stoikisme yang sejati, yaitu menemukan ketenangan dalam menghadapi tantangan hidup dan bertindak dengan kebijaksanaan demi kebaikan bersama.

Stoa yang tidak dipahami dengan benar, kerap kali membuat lupa diri, melupakan fitrahnya sebagai makhluk sosial yang memiliki tanggung jawab terhadap sesama. Terjebak dalam ambisi pribadi, mereka lupa akan kewajiban dasarnya sebagai manusia. Nilai-nilai kemanusiaan sering tergeser oleh hasrat untuk meraih pencapaian pribadi, mengaburkan kepekaan sosial dan kebersamaan yang seharusnya menjadi fondasi setiap interaksi.

Berbekal pada "sesuatu yang bisa dan tidak bisa kita kontrol" dengan pemahan yang gagal, banyak dari kita berusaha meniadakan faktor eksternal memiliki pengaruh yang sangat besar dalam mempengaruhi kendali diri dan emosi kita.  Stoa mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tercapai bukan dengan menolak atau mengabaikan pengaruh eksternal tersebut, tetapi dengan mengembangkan ketenangan batin dan kebijaksanaan dalam meresponnya. Kebahagiaan bukanlah ketiadaan emosi, melainkan kemampuan untuk mengarahkan emosi-emosi tersebut dengan bijak.