Untuk sebuah perubahan: Masyarakat kecil layak untuk dikorbankan.
Dalam analisis sosial dan filosofi moral, sering muncul konsep yang membedakan manusia menjadi dua tipe: orang besar dan orang kecil. Konsep ini tidak merujuk pada ukuran fisik, tetapi pada peran dan pengaruh individu dalam masyarakat serta justifikasi moral atas tindakan yang mereka lakukan.
Orang besar sering kali dilihat sebagai individu yang memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Mereka adalah pemimpin, visioner, dan tokoh revolusioner yang mampu menggerakkan perubahan signifikan. Dalam sejarah, orang besar ini diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Muhammad, Alexander Agung, Napoleon Bonaparte, dan Nelson Mandela. Mereka memiliki kemampuan untuk menginspirasi, memobilisasi massa, dan membawa transformasi sosial, politik, atau ekonomi.
Dalam beberapa pandangan filosofi, orang besar memiliki legitimasi moral untuk melakukan tindakan drastis, termasuk kekerasan, demi mencapai tujuan yang dianggap lebih besar dan mulia. Misalnya, filsuf Jerman Friedrich Nietzsche dalam konsep "Übermensch" atau manusia unggulnya, menyatakan bahwa orang besar berada di atas moralitas konvensional dan berhak menciptakan nilai-nilai mereka sendiri. Tindakan yang dilakukan oleh orang besar, meskipun mungkin tampak brutal atau tidak etis dalam pandangan umum, sering kali dilihat sebagai pengorbanan yang diperlukan untuk mencapai kemajuan atau perubahan yang signifikan.
Sebaliknya, orang kecil adalah individu yang tidak memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Mereka adalah rakyat biasa yang kehidupannya tidak menciptakan gelombang besar dalam sejarah. Orang kecil menjalani hidup mereka dalam rutinitas sehari-hari tanpa aspirasi besar untuk mengubah dunia. Mereka mungkin berperan dalam perubahan sosial sebagai bagian dari massa, tetapi jarang menjadi motor utama perubahan tersebut.
Dalam kerangka pemikiran yang membedakan orang besar dan orang kecil, orang kecil sering kali dianggap layak untuk dijadikan korban dalam perjuangan atau perubahan yang dibawa oleh orang besar. Pandangan ini, meskipun kontroversial, telah muncul dalam berbagai konteks sejarah di mana pengorbanan rakyat biasa dianggap sebagai harga yang harus dibayar untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Contohnya, revolusi dan perang sering kali melibatkan pengorbanan massal rakyat demi cita-cita kemerdekaan atau perubahan sosial.
Orang kecil harus hidup dalam kepatuhan, tidak punya hak untuk melawan hukum, karena mereka adalah orang kecil. Sebaliknya, orang-orang besar punya hak untuk melakukan tindak kejahatan karena mereka hebat. Perbedaannya, tindak kejahatan yang dilakukan orang-orang besar itu tidaklah sejahat yang disebutkan tadi. Orang besar punya hak semacam itu; suatu hak spiritual, untuk melakukan, dengan kesadaran sendiri, tindakan yang melewati norma-norma yang ada, melakukan hal-hal tertentu, demi tercapainya esensi cita-citanya yang mulia, malah terkadang, boleh jadi, cita-citanya itu berguna untuk kepentingan seluruh umat manusia.
Jika penemuan Kepler dan Newton tidak bisa terwujud tanpa mengorbankan hidup seseorang, selusin, atau bahkan lebih banyak orang, maka Newton punya hak, dan bahkan wajib menghabisi hidup lusinan atau ratusan orang demi terwujudnya penemuan yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia itu. Namun itu bukan berarti Newton punya hak untuk membunuh orang-orang sesuka hatinya.
Semua pemimpin, semacam Muhammad, adalah orang yang tidak dapat dianggap penjahat; demi hukum baru yang ditegakkannya, yang berbeda dari hukum peninggalan para nenek-moyang, orang seperti dia berhak mengobarkan pertumpahan darah, meskipun pertumpahan darah semacam itu harus banyak mengorbankan nyawa orang-orang yang tak bersalah. Meskipun demikian, di situlah hebatnya para pemimpin besar. Mereka itu tak pernah bangga dengan pembantaian yang mereka lakukan; sebaliknya, mereka malah menyimpan semacam penyesalan atas risiko yang tak terelakkan itu. Semua orang besar, atau bahkan orang-orang yang sedikit di atas publik, pasti memiliki karakter jahat.
Tanpa itu sulit bagi mereka untuk keluar dari kebiasaan umum; mengikuti kebiasaan umum itulah yang tak bisa mereka lakukan, dan, memang seharusnya tak boleh mereka lakukan. Tidak ada yang baru dalam hal ini. Pengelompokkan manusia ini bukanlah batas mati. Alamlah yang memisahkan manusia dalam dua kategori tersebut: makhluk inferior (orang biasa yang tugasnya hanya untuk mereproduksi makhluk sejenisnya) dan orang besar yang dianugerahi kemampuan untuk mengabarkan sabda-sabda baru.
Yang pertama bertemperamen kolot, terkungkung dalam hukum; mereka hidup di bawah kendali, dan memang suka dikendalikan. Orang-orang semacam ini memang wajib dikendalikan. Yang kedua adalah orang-orang yang berada di atas hukum; mereka pantas disebut sebagai manusia pendobrak. Kejahatan yang mereka lakukan harus dinilai secara relatif. Mereka adalah orang-orang yang, dengan berbagai cara, berupaya meruntuhkan masa kini demi masa depan yang lebih baik. Jika orang semacam itu terpaksa mengarungi lautan darah demi mewujudkan cita-citanya yang agung, maka ia berhak untuk mengarungi lautan darah itu!
Tidak perlu cemas; kenyataan ini sangat tidak masuk akal bagi orang banyak, dan biasanya orang-orang besar semacam itu akan dihukum oleh massa di sekitarnya. Namun, pada generasi berikutnya, massa jugalah yang akan mencuci nama dan memuja para penjahat itu. Kelompok pertama adalah manusia zaman kini, yang kedua adalah manusia masa depan. Yang pertama melestarikan dunia dan isinya; yang kedua menggerakkan dunia dan memimpinnya ke negeri harapan. Keduanya sama-sama punya hak untuk hidup.
